amalan kh hasan genggong

SURABAYA Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan 1443 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menggelar silaturahim dan konsolidasi organisasi pada Sabtu (23 April 2022) malam. KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua Umum MUI Jawa Timur dalam sambutannya mengajak seluruh pengurus MUI NgajiMillenial, PK IPNU Haf-Sa Genggong Hadirkan Sejumlah Kiai Jawa Timur Anita Karolina ; Senin, 28 Desember 2020 | 09:00 WIB (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pondok Pesantren Putra Hafsawaty (Haf-Sa) Zainul Hasan Genggong usai menyelenggarakan Ngaji Millenial pada Sabtu (26/12/2020). Kegiatan ini bertujuan dalam rangka Ada58+ Judul Kitab Makna Jenggot (Jawa/Sunda) dalam Flashdisk. Akhlaq Lil Banat (3 Jilid) Akhlaq Lil Banin (2 Jilid) Durusul Fiqhiyyah (3 Jilid) Alala Tanalul Ilma. Amalan-Amalan Ing Wulan Muharrom. Amtsilatus Tahsrifiyyah. At-Tashrif. Bidayatul Hidayah - Bahasa Jawa. Probolinggo NU Online Haul ke-62 KH Muhammad Hasan yang digelar di Masjid Jami' Al Barokah Genggong, Rabu (5/7) pukul 08.30 WIB, mengundang antusiasme kaum Muslim. Ribuan masyarakat hadir memadati kawasan Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Haul KH Muhammad Hasan Genggong selalu diperingati setiap 11 MenteriBadan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (BUMN RI) Erick Thohir melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (20/11/2021). Dalam kunjungan tersebut, Erick Thohir menjelaskan tentang pentingnya untuk meningkatkan ekonomi nasional. Site De Rencontre Femme Ukraine Gratuit. PROBOLINGGO - Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong menggelar Haul Almarhum Al Arif Billah KH Moh Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin ke-70. Dalam haul kali ini, para santri dan alumni telah mengkhatamkan Alquran sebanyak 190 kali, membaca surat al-Ikhlas kali, dan membaca sholawat sebanyak kali. Acara haul yang dihadiri para kiai dan habaib ini berlangsung di Masjid Jami’ Al-Barokah Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Selasa 2/5/2023. Pembacaan manakib almarhum Kiai Hasan Genggong dibacakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH Nun Hassan Ahsan Malik. “Kalau semua manaqibnya dibaca di acara haul ini tidak akan cukup waktunya karena saking banyaknya cerita, banyaknya karomah dari hadratal marhum Kiai Hasan Sepoh Kiai Hasan sepuh,” ujar pengasuh yang biasa dipanggil Gus Alex ini dalam acara haul yang ditayangkan secara daring ini. Masyarakat Probolinggo yang menututi Kiai Hasan Genggong mungkin sudah banyak yang meninggal. Namun, dia bersyukur masih bisa menghimpun sejarah dan perjalanan hidup Kiai Hasan Genggong, yang dikenal juga dengan sebutan Kiai Hasan Sepuh. “Alhamdulillah dengan beberapa upaya, kita semua mengumpulkan kembali sejarah-sejarah dan merawat profil-profil, dirawat, dijaga, ada cerita baru kita masukkan. Apa tujuannya! Biar kita semua kenal siapa Kiai Hasan sepuh,” ucap Gus Alex. Dengan menceritakan kisah orang saleh, menurut dia, maka Allah SWT akan menurunkan rahmat-Nya. Karena itu lah Pesantren Zainul Hasan Genggong menggelar acara haul Kiai Hasan Sepuh yang ke-70 ini. “Dengan menyebut ceritanya orang saleh, Allah ta’ala menurunkan rahmat kepada kita semua, amin. Ini alasannya, bukan untuk mengangung-agungkan,”kata Gus Alex. “Mudah-mudahan dengan haul ini bisa memperoleh tempiasnya barokahnya, semoga bisa kumpul lagi di suarganya Allah,” imbuhnya. Ada beberapa poin yang disampaikan Gus Alex tentang biografi almarhum Kiai Hasan Sepuh. Hal ini bertujuan agar para santri, alumni, dan masyarakat pada umumnya lebih mengenal lagi tentang sosok Kiai Hasan Sepuh. “Siapa tahu setelah mendengarkan kisah beliau terketuk hati kita untuk menambah kecintaan kita kepada orang-orang saleh, kecintaan kepada auliya Allah, orang-orang yang menjadi kekasih Allah yang setiap malam selalu bermunajat kepada Allah SWT,” jelas Gus Alex. “Jika senang kepada wali-wali Allah, insyallah diberikan kesalamatan oeh Allah SWT,” lanjutnya. Berdasarkan penuturan Gus Alex, Kiai Hasan Sepuh lahir di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan Probolinggo pada 27 Rajab 1259 Hijriah atau bertepatan dengan 23 Agustus 1843 M. Ia terlahir dari pasangan Kiai Syamsuddin bin Qoiduddin asal Madura dan Nyai Khadijah yang ahli ibadah. “Jadi, waktu Kiai Hasan Sepoh ada di dalam perut sang ibu, beliau bermimpi bahwa beliau memakan bulan dengan habis. Kemudian ditafsiri, kalau seandainya Nyai Khadijah melahirkan anak, insyallah derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT,” ucap Gus Alex. Masa kecil Kiai Hasan Genggong bernama Ahsan bin Syamsuddin bin Qoiduddin. Pada masa kecilnya, ia senang menyendiri, tidak banyak berkomentar ataupun berkomunikasi. Lalu, Kiai Hasan Sepuh menimba ilmu ke pesantren di Bangil yang diasuh oleh Kiai Moh Tamim. Kemudian, pada 1860-an, ia pindah ke Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan di Pulau Madura. “Dan beliau termasuk santri yang dari generasi pertama setelah Kiai Kholil Bangkalan baru pulang dari Makkah,” kata Gus Alex. Setelah tiga atau empat tahun nyantri kepada Kiai Kholil di Bangkalan, Kiai Hasan Genggong lalu ada isyarah dan ingin berangkat ke Makkah. Setelah memohon restu sang ibu, dia pun berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmunya. Dia antara guru-guru Kiai Hasan Genggong adalah KH Syamsuddin, KH Rofi’i Sentong Kraksaan, KH Mohammad Tamin Sukonsari Pasuruan, KH Moh Kholil Bangkalan, KH Jazuli Madura, KH Nachrowi Surabaya, Syekh Chotib Bangkalan Madura, Syekh Maksum Sentong Kraksaan, KH Moh Nawawi Bin Umar Banten Makkah, Kiai Marzuki Mataram Makkah, Kiai Mukri Sundah Makkah, Sayyid Bakri bin Sayyid Moh Syatho Al Misri, dan Habib Husaian bin Muhammad bin Husain Al Habsyi Makkah. “Beliau memiliki guru-guru. Jadi, Kiai Hasan sepoh di sini senang nyari ilmu,” jelas Gus Alex. Sepulang dari Makkah, kemudian Kiai Hasan Genggong menikah dengan Nyai Ruwaidah, putri dari KH Zainal Abidin, yang mendirikan Pesantren Zainul Hasan pada 1839. Pasangan ini dikarunia seorang putra yang bernama KH Ahmad Nahrawi. Selama di Indonesia, Kiai Hasan Genggong kemudian berdakwah ke seluruh penjuru daerah. Dalam perjalanan dakwahnya, dia pun bertemu dengan banyak kiai dan habaib. Saat berkiprah di NU sekitar 1930-an, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pernah memerintah beliau untuk menjadi Rais Syuriah Pertama PCNU Probolinggo sampai wafat. “Beliau juga memiliki sahabat-sahabat karib, seperti Habib Salim bin Jindan, mbahnya Habib Jindan,” kata Gus Alex. Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan sendiri merupakan keturunan Rasulullah asal Tangerang, Banten. Ia juga hadir di dalam acara haul Kiai Hasan Sepuh ini. 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID A0hZ2ATLf1lRaHy0ePikgCBsqV0D2r5ZoIQAcVQawdzz3rVNgQsjGg== Desember 11, 2021 641 am 3 Menit Membaca Oleh Ali Mursyid Azisi Sosok lain yang menjadi teladan dan panutan KH. Hasan Abdillah selain KH. Muhammad Shiddiq, Jember, KH. Achmad Qusyairi Pasuruan-Glenmore Banyuwangi, dan KH. Abdul Hamid Pasuruan, ada salah satu Maha Gurunya yang tidak kalah memberi kesan dalam perjalanan hidup dan nyantri Kiai Hasan Abdillah. Beliau adalah KH. Mohammad Hasan bin Syamsuddin bin Qodiduddin Al Qodiri Al Hasani,[1] Genggong, Probolinggo. Selain pernah nyantri di Genggong, Kiai Hasan Abdillah memiliki hubungan guru—murid erat dengan Syekh Hasan Gengggong. Pemilik nama kecil Ahsan bin Syamsudin yang kemudian dikenal sebagai KH. Mohammad Hasan Genggong, lahir pada 27 Rajab 1259 H atau bertepatan tahun 1840 M, di Sentong, Krenjengan, Probolinggo, Jawa Timur. Jika melihat latar belakang Kiai Mohammad Hasan Genggong memang lahir dari keluarga Kiai, maka tidak heran ia dikenal akan kesalehan dan kecerdasannya, bahkan disebut sebagai salah satu Ulama besar Indonesia. Riwayat pendidikannya berawal dari Pesantren Sentong yang waktu itu dinahkodai KH. Syamsudin. Lalu lanjut ke Pesantren Sukonsari, Pojentrek, Pasuruan, yang ketika itu diasuh oleh KH. Mohammad Tamim. Kemudian melanjutkan nyantrinya selama tiga tahun kepada Syaikhona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura. Serta ke Makkah ketika menunaikan ibadah Haji sekaligus memperdalam ilmu agama selama tiga tahun. Selain dikenal akrab dengan Ulama besar lainnya seperti halnya KH, Hasyim Asy’ari, Tebuireng Jombang, KH. Nawawi Sidogiri Pasuruan, KH. Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo, dan beberapa Ulama lainnya, KH. Mohammad Hasan Genggong juga akrab dengan KH. Achmad Qusyairi bin Shiddiq Ayahanda KH. Hasan Abdillah. Setiap kali berkunjung ke Pesantren Genggong, Kiai Mohammad Hasan langsung menyuruh santri-santrinya untuk segera mengaji kepada KH. Achmad Qusyairi. Kebiasaan KH. Mohammad Hasan Genggong ketika malam yaitu dimanfaatkan untuk sholat hajat dan Tahajjud, dan hal ini dilakukan secara istiqamah sejak menjadi santri. Itulah mengapa salah satu keilmuan istiqamah beliau ditiru oleh Kiai Hasan Abdillah Glenmore. Semasa KH. Hasan Abdillah nyantri di Pesantren Genggong, ia dikenal sebagai seorang yang sakti dengan ilmu-ilmu dan amalan yang tidak masuk akal, termasuk nyeleneh. Namun, hal itu diketahui oleh Kiai Mohammad Hasan Genggong. “Sudah ya, ilmu itu dibuang, diganti sholawat saja” tutur KH. Mohammad Hasan, Genggong. Sejak saat itu KH. Hasan Abdillah tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu nyeleneh yang dikenal sakti oleh rekan-rekan mondoknya dan kerap mengamalkan sholawat dari Kiai Mohammad Hasan. Dalam riwayat pun yang diceritakan Kiai Washil Hifdzi Haq, banyak amalan sholawat Kiai Hasan Abdillah yang bersanad kepada Kiai Mohammad Hasan, Genggong,[2] seperti halnya ijazah hasbunallah wa nikmal wakil. Bahkan Kiai Hasan Abdillah Banyak menceritakan kisah hidup Kiai Mohammad Hasan Genggong kepada putra-putrinya bahkan santri-santrinya. Dalam catatan sejarah, Kiai Hasan Abdillah untuk pertama kalinya didatangi Nabi Muhammad secara langsung ketika masih mengenyam pendidikan di Pesantren Genggong. Hubungan Kiai Hasan Abdillah dengan keluarga Pesantren Genggong dikenal begitu erat. Bahkan Kiai Hasan Abdillah begitu akrab dengan cucu kesayangan al-Arif Billah KH. Mohammad Hasan Genggong, yaitu Ahmad Tuhfah Nahrawi atau dikenal dengan Non/Lora/Syekh Tuhfah bin Nahrawi bin Hasan. Dalam riwayat Non Tuhfah ketika umur belasan tahun sudah mengarang kitab, padahal ia nyantri satu kali dan hanya dalam kurun waktu satu minggu, yaitu kepada KH. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang.[3] Diceritakan oleh Kiai Washil bahwa hubungan KH. Hasan Abdillah selain akrab, juga kerap kali keduanya saling bertukar ijazah amalan-amalan, mulai dari sholawat dan lainnya.[4] Mohammad Hasan Genggong dikenal sebagai seorang wali/sufi dan salah satu Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah. Beliau wafat pada 1 Juni 1955 M atau bertepatan 11 Syawal 1374 H, di Genggong, Probolinggo. Al-Fatihah [1] Nama lain Kiai Mohammad Hasan yaitu “KH. Hasan Sepuh” [2] Washil Hifdzi Haq putra KH. Hasan Abdillah, Wawancara, Surabaya 10 Juni 2021. [3] Ibid. [4] Washil Hifdzi Haq, Wawancara, 10 Juni 2021. Home Cerita Pagi Sabtu, 22 Januari 2022 - 0500 WIBloading... Kiai Hasan A A A Kiai Hasan Genggong adalah seorang guru sufi yang terkenal sebagai salah satu mursyid alias pembimbing spiritual Thoriqoh Naqsyabandiyah. Ulama yang juga dikenal sebagai Syekh Hasan Genggong lahir di Probolinggo pada 1259 Hijriyah dan meninggal pada 1373 Hijriyah. Dia merupakan ulama dari para wali dan seorang wali dari para hidupnya, ulama ini sosok panutan bagi banyak orang pada zamannya. Kiai Hasan mengabdikan hidupnya untuk mengasuh Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong pada periode 1865 hingga 1952, seperti dilansir juga Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di MajapahitKini, yayasan pendidikan yang diteruskan oleh para keturunannya semakin dikenal luas di kalangan masyarakat, khususnya di Probolinggo dan Jawa Timur. Ulama ini pernah memberikan doa pada penjajah Belanda Kiai Hasan Genggong sudah tampak sejak ia masih di dalam kandungan sang ibu. Konon, ketika hamil sang ibu bermimpi menelan bulan, mimpi itu diartikan jika kelak anak dalam kandungannya akan menjadi orang yang itu, Kiai Syamsuddin ayahnya juga mengalami hal unik serupa sang istri. Suatu ketika, Kiai Syamsuddin mengisi ceramah di desa lain dan pulang larut jalan mendaki, Kiai Syamsuddin melihat cahaya dari kejauhan memancar dari arah timur. Rupanya, sinar itu berasal dari rumahnya. Saat sang ayah sampai rumah, Kiai Hasan Genggong rupanya sudah adalah Kholifah kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong dan intelektual yang produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Salah satu karyanya adalah kitab Nadham Safinatun Najah. Dia berasal dari keluarga Alawiyyin dari marga Al Qodiri Al Hasani yang merupakan keturunan dari Sultanul Awliya al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin Abdul Qadir al-Jailani, seperti dikutip NU zaman penjajahan Belanda, Kiai Hasan Genggong pernah mendapat kunjungan dari Charles Olke van der Plas dan rombongannya. Saat itu, van der Plas menjabat sebagai gubernur kawasan Jawa Timur. Ia meminta Kiai Hasan Genggong berkenan mendoakannya. cerita pagi kisah ulama belanda mendoakan orang lain Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 3 menit yang lalu 12 menit yang lalu 31 menit yang lalu 31 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu

amalan kh hasan genggong